Sebuah
karunia yang sangat agung saat Allah menyatukan hati-hati kaum Muslimin dalam
melawan musuh-musuhnya. Inilah yang kita saksikan atas umat Islam di Negeri
Syam, ketika mereka ditimpa kedzaliman dan keganasan musuh-musuhnya dari
kalangan Syiah Nushairiah.
Ribuan umat Islam bangkit dan berbondong-bondong
berhijrah menuju negeri yang dijanjikan penuh keberkahan. Dan secara perlahan,
umat Islam bangkit dari ketertindasan. Sementara kemenangan demi kemenangan
terus mereka raih atas musuh-musuhnya.
Namun kegembiraan itu tidak berjalan panjang. Tiba-tiba
kita dikejutkan dengan perselisihan antar umat Islam, antar para mujahid yang
di tangan mereka tergenggam senjata. Maka perjuangan umat Islam melawan
musuh-musuhnya ternoda dengan darah-darah yang tertumpah oleh sesama mereka.
Lebih menyedihkan bahwa perselisihan itu tidak hanya
menimpa kepada mereka yang berada di medan konflik, namun juga melebar melalui
berbagai jejaring sosial di seluruh dunia. Perang darah itu meluas hingga
perang tinta di dunia maya. Kehormatan para mujahid itu tercoreng oleh
lisan-lisan umat Islam yang terseret badai fitnah yang bertiup kencang.
Masing-masing terjebak pada fanatisme pembelaan kelompok
idolanya. Setiap orang dengangadget di tangannya terlalu bebas untuk
membuat statemen yang menciderai kehormatan para ulama dan syuhada.
Sungguh, mereka yang lisan dantangannya Allah selamatkan
dari menodai kehormatan saudaranya adalah manusia yang paling beruntung di saat
badai fitnah itu datang.
Jika dia termasuk yang dikaruniai Allah kemampuan untuk
mendamaikan dua saudaranya yang bertikai, maka itu adalah sebesar-besar karunia
dan seagung-agung pahala. Namun jika ia bukantermasuk di dalamnya, maka berdoa
untuk kebaikan kaum Muslimin dan berupaya menahan lisan dantangannya dari
menodai kehormatan mereka adalah pilihan yang terpuji. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam mengingatkan:
“Sungguh, nanti akan
terjadi fitnah di mana orang yang tidur lebih baik daripada orang yang duduk,
orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri
lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik
daripada orang yang berlari.” Abu Bakrah bertanya, “Apa yang Anda perintahkan
kepadaku jika aku menemui hal semacam itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang
mempunyai unta hendaknya dia pergi dengan untanya, barangsiapa yang memiliki
kambing hendaknya dia pergi dengan membawa kambingnya, dan barangsiapa yang
mempunyai tanah hendaknya dia pergi dengan membawa hasil penjualan tanahnya.
Namun bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa hendaknya dia menghantamkan
pedangnya pada batu keras (agar rusak) kemudian menyelamatkan diri semampunya.” [HR. Muslim, Al-Fitan, hadits no. 2887 [Muslim bi Syarh
An-Nawawi (9/208)]. Abu Dawud, Al-Fitan wa Al-Malâhim, hadits no. 4238 [‘Aun
Al-Ma‘bûd (11/335)].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar