Seperti hujan sore ini, dari pinggir jalan saya memerhatikan
aliran air yang memenuhi selokan. Kemudian ia mengalir entah ke mana. Setelah
hujan agak reda, air pun mengalir dari daun dan jatuh kembali ke tanah.
Sepertinya karena terlalu memerhatikan perilaku air, menurut saya ada tiga
filosofi air yang amat mulia dan analog dengan perilaku manusia. Mau tahu
filosofinya ?
Pertama, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke
tempat yang rendah. Kalau saya tidak salah ingat, dahulu saya mendapatkan
pelajaran mengenai sifat-sifat air ketika duduk di bangku kelas 3 sekolah
dasar. Salah satu sifat tersebut adalah perilaku air yang selalu mengalir dari
tempat tinggi ke tempat rendah. Kecuali di zaman modern ketika mesin pompa
sudah ditemukan, pada zaman dahulu tentu amat susah untuk menaikkan air dari
tanah ke permukaan yang lebih tinggi. Saya yakin, Tuhan menciptakan air agar
manusia bisa mengambil pelajaran darinya.
Menurut saya, sifat air yang selalu mengalir ke tempat
rendah analog dengan sikap rendah hati pada manusia. Air selalu ingin berguna
bagi makhluk hidup yang ada di bawahnya. Ibarat pemimpin, air adalah pemimpin
yang melayani. Jika ia berada di posisi teratas, maka ia akan menjadi pelayan
bagi orang-orang yang membutuhkan di bawahnya. Apalagi air identik dengan
sumber kehidupan. Maka tidak salah jika sifat pertama ini saya analogikan
dengan pemimpin yang melayani. Pemimpin yang melayani adalah sumber
kesejahteraan bagi masyarakat yang ia pimpin.
Kedua, air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Cobalah
Anda buat sebuah kotak kedap air yang bersekat tapi memiliki celah. Kemudian
isi kotak tersebut dengan air. Air pasti akan berusaha memenuhi kotak tersebut
dengan wujudnya. Perlahan tapi pasti, melalui celah antar sekat, air akan
mengisi kotak tersebut hingga penuh. Percikan air Manusia yang baik adalah manusia yang berusaha
mengisi kekosongan hati dari manusia lainnya. Dengan meniru sifat air, kita
seharusnya bisa menjadi penolong bagi manusia lainnya yang sedang bermasalah
atau kekurangan. Tentu, jika sifat air yang kedua ini benar-benar kita
teladani, kita selalu memiliki waktu untuk melengkapi kehidupan manusia
lainnya. Artinya, kita menjadi manusia yang senang menolong dan suka berbagi.
Karena sebenarnya, batin kita terisi setelah memenuhi kekurangan dari saudara
kita.
Ketiga, air selalu mengalir ke muara. Tak peduli seberapa
jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Sebenarnya saya tidak
setuju dengan orang yang menggunakan pepatah “hiduplah mengalir seperti air”
untuk menguatkan gaya hidup yang tidak punya arah dan serampangan. Justru
sebenarnya dengan kita meniru air yang mengalir, kita seharusnya punya visi
kehidupan. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara
adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang
dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di
sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tapi toh
akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai
ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang
beberapa minggu. Patut diingat, hal terpenting bukanlah waktu tempuh yang akan
dilalui, tapi seberapa besar keyakinan untuk menuju muara atau visi atau impian
yang akan kita gapai. Oke, itulah tiga filosofi air yang bisa saya umpamakan
dengan perjalanan kehidupan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar