zaman purba pertama, berlangsung
kira-kira sampai 500.000 tahun yang lampau di Nusantara hidup makhluk separuh
manusia separuh hewan yang disebut satwapurusa. Mereka tidak
berbusana dan umumnya tidak menggunakan senjata, kulitnya hitam dan berbulu.
Kira-kira dari 750.000 sampai 250.000 tahun yang silam satwapurusa yang
hidup di Pulau Jawa berjalan seperti manusia, berkulit hitam kemerahan,
berspekakas tulang dan batu, bertabiat baik dan tidak suka memangsa sesama,
dinamakan bhutapurusa.
Kedua, zaman purba kedua, berlangsung kira-kira sampai 300.000
tahun silam hidupyaksapurusa yang berhasil membinasakan satwapurusa.
Mereka berperawakan seperti denawa, tegap, besar dan tinggi, berkulit hitam. Ketiga,
zaman purba ketiga atau zaman purba madya, berlangsung kira-kira
dari 50.000 sampai 25.000 tahun yang lampau hidup wamanapurusa,
sejenis manusia kerdil berpekakas dari batu. Mereka tersebar di Pulau Jawa dan
Semenanjung Malaka.
Keempat, zaman purba keempat, berlangsung
kira-kira dari 250.000 hingga 10.000 tahun silam hidup manusia yang lebih besar
dari wamanapurusa, tinggal di Jawa Tengah dan Timur. Perkakas
mereka terbuat dari batu, kayu, tulang, dan bambu. Dan, kelima,
zaman purba kelima yang disebut zaman purba terakhir, berlangsung kira-kira
10.000 sampai tahun pertama tarikh Saka. Kurun zaman ini dinamakan masanya
orang-orang baru dari utara bermigrasi ke wilayah Nusantara yang tanahnya
subur, terkenal dengan aneka ragam rempah-rempah.
Semenjak masuk dalam kurun tahun Saka,
kehidupan masyarakat di Nusantara mulai dapat dibedakan antara penduduk pribumi
yang telah lama menetap dengan para pendatang baru dari negeri-negeri sebelah
utara. Antara kedua belah pihak lama-kelamaan terjadi perbauran melalui
perkawinan dengan perempuan pribumi, hidup menetap dalam rumah panggung di
sebuah perkampungan yang dipimpin seorang penghulu atau datuk yang mengemban
tanggung jawab atas kelangsungan hidup kelompoknya.
Mereka sudah mampu mengatur dan
membudidayakan sumber alam berupa bercocok tanam dan beternak binatang, membuat
api dengan pemantik batu dan besi, mengenal alat penukan barang, memiliki ilmu
perbintangan, dan pengetahun tentang tutur kata. Di antara kelompok yang satu
dengan kelompok lainnya telah terjadi persaingan yang tidak jarang terjadi
saling serang yang mengakibatkan terusirnya kelompok yang lemah, bahkan mulai
terjadi pula perebutan jabatan pimpinan dalam sebuah kelompok.
Para kaum pendatan juga mengajarkan agama yang
mereka anut kepada penduduk setempat. Kehidupan perniagaan mulai berkembang
yang awalnya hanya berupa tukar-menukan barang kebutuhan antar kelompok hingga
menjadi proses perdagangan berbagai perkakas dan perhiasan dari aneka ragam
logam, perak, emas, manik-manik, kristal, pakaian, dan kendaraan.
Selanjutnya diriwayatkan kedatangan
Dewawarman dengan para pengikutnya. Kemudian Dewawarman kawin dengan putri dari
penghulu masyarakat sebuah wilayah di ujung barat Jawa Barat, istrinya kemudian
diberi gelar Dewi Dhw?nirahayu. Pada tahun 130-168 M, Dewawarman dinobatkan
menjadi raja wilayah tersebut dengan kerajaannya disebut Salakanagara dengan
ibukotanya di Rajatapura. Raja-raja Salakanagara selanjutnya adalah: Dewawarman
II (168–195 M), Dewawarman III (195–238 M), Dewawarman IV (238–252 M),
Dewawarman V ( 252–276 M), Spatikarnawa Warmandewi (276–289 M), Dewawarman VI
(289–308 M), Dewawarman VII (308–340 M), dan Dewawarman VIII (340–363 M).
Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara
Naskahini diawali dengan paparan yang mengacu
pada kira-kira sejuta tahun sampai enam ratus ribu tahun yang lalu di bumi
Nusantara, terutama di Pulau Jawa. Pada waktu itu hidup
berkembang manusia yang memiliki tabiat, seperti separuh binatang. Ada
juga yang menyebut manusia-hewan dari zaman purba, karena mereka berjalan
seperti separuh hewan separuh menusia. Tinggi besar wujudnya, tidak
bertempat tinggal. Mereka ada yang seperti wujud raksasa serta berbulu,
tabiatnya kasar.
Mereka hidup berkelompok tidak banyak. Ada
lagi (yang hidup) di hutan yang lebat seperti kera. Mereka tinggal di atas
pohon-pohonan, juga di lereng gunung, dan di tepi sungai. Apabila mereka
berkelahi, seorang lawan seorang dan membunuh tanpa senjata, hanya
menggunakan tangan, tidak berpakaian, mereka tidak memiliki perasaan seperti
manusia sekarang.
Mereka dijumpai senang sekali berayun-ayun di
atas kayu-kayu. Manusia hewan itu ada di Pulau Jawa, di hutan
Swarnabhumi (Sumatera), di hutan Mengkasar (Sulawesi), hutan Bakulapura (Kalimantan),
dan di wilayah yang lainnya. Di Pulau Jawa kita-kira 700.000 sampai
300.000 tahun yang lampau hidup manusia-hewan yang berjalan seperti manusia,
kulitnya berwarna merah hitam, tabiatnya baik, dan lebih cerdas dari
manusia hewan yang berjalan seperti binatang.
Setiap hari senantiasa membuat senjata dari
tulang dan batu, walaupun hasil pekerjaannya yang tidak begitu bagus dan mereka
tidak pemarah. Mereka senantiasa diserang oleh manusia-hewan yang seperti
manusia, oleh karena itu, berkelahilah kedua golongan itu,
manusia-hewan yang seperti manusia mahir berkelahi.
Dengan demikian manusia-hewan yang
berjalan seperti binatang akhirnya musnah, semuanya dibunuh tanpa
bersisa, lenyap dari muka bumi. Kulit mereka berwarna hitam.
Ada juga yang disebut manusia-hewan yang
berjalan seperti manusia disebut butapurusa(manusia raksasa)
tinggal di dalam gua-gua di lereng gunung. Yang berwujud butapurusa musnah
tiada bersisa. Karena itu, sejak 600.000 tahun yang lampau, mereka banyak
yang dibunuh oleh orang-orang pendatang dari benua sebelah utara. Kedatangan
mereka itu dari wilayah Yawana, kemudian dari Sanghyang Hujung,
Swarnabhumi, dan Pulau Jawa. Pada 250.000 tahun yang lampau mereka yang
berwujud butapurusa musnah tiada bersisa. Kejadian itu oleh
mahakawi diberi nama zaman purba pertama.
Orang pendatang yang dianggap sebagai manusia
purba, berdiam di Jawa Timur. Ada yang pergi ke timur, kemudian menetap
di pulau-pulau sebelah timur. Ada yang pergi berlayar ke selatan di Pulau
Jawa, ada yang tinggal di Swarnabhumi dan seluruh pulau di bumi Nusantara.
Selanjutnya kira-kira pada 500.000 tahun
sampai 300.000 tahun yang lampau, di Swarnabhumi dan Jawa Barat serta Jawa
Tengah hidup yaksapurusa pada zaman purba yaitu seperti
manusia-yaksa, atau seperti rupa raksasa. Badannya tegap, besar dan tinggi,
mereka suka memakan manusia sesamanya, terutama musuhnya, serta berbagai
binatang, bertabiat tidak berperikemanusiaan, sedangkan perasaan mereka bagai
binatang buas. Tubuhnya tinggi, tidak berpakaian dan kulitnya berwarna hitam
dan berbulu banyak. Mereka suka meminum darah sesama manusia. Makhluk ini
akhirnya lenyap tiada bersisa, karena mereka banyak yang dibunuh oleh manusia
purba, ialah pendatang baru dari benua sebelah utara.
Diceritakan pula pada 300.000 tahun sampai
50.000 tahun yang lampau, di Jawa Barat dan Jawa Tengah, pernah ada manusia
separuh raksasa, yaitu rupa manusia separuh raksasa. Manusia ini belum
diketahui nenek-moyangnya, karena rupanya hampir sama dengan manusia
raksasa yang telah musnah. Tetapi badannya lebih kecil dan lebih banyak
perbedaannya. Kulitnya tidak berwarna hitam, dan tidak banyak bulunya,
bertabiat baik dan lebih cerdas dari manusia raksasa yang telah musnah.
Kemudian mereka juga musnah tiada bersisa, karena banyak yang dibinasakan
oleh orang pendatang baru. Menurut mahakawi, masa demikian
disebut zaman purba kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar