Jumat, 14 Oktober 2016

Pendidikan Di Indonesia



Indonesia merupakan negara yang mutu pendidikannya masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain bahkan sesama anggota negara ASEAN pun kualita SDM bangsa Indonesia masuk dalam peringkat yang paling rendah. Hal ini terjadi karena pendidikan di Indonesia belum dapat berfungsi secara maksimal. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus segera diperbaiki agar mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan dalam berbagai bidang supaya bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa lain dan agar tidak semakin tertinggal karena arus global yang berjalan cepat.
    
Untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia diperlukan sistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan dan tuntutan zaman. Perbaikan itu dilakukan mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menggunakan sistem pendidikan dan pola kebijakan yang sesuai dengan keadaan Indonesia.
    
Masa depan suatu bangsa sangat tergantung pada mutu sumber daya manusianya dan kemampuan peserta didiknya untuk menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Hal tersebut dapat kita wujudkan melalui pendidikan dalam keluarga, pendidikan masyarakat maupun pendidikan sekolah.
    
Saat ini pendidikan sekolah wajib di terima oleh seluruh masyarakat Indonesia, karena dengan mengenyam pendidikan kita dapat mengikuti arus global dan dapat mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain. Namun dalam kenyataannya sekarang ini masih banyak orang yang belum dapat mengenyam pendidikan sekolah karena faktor ekonomi. Akan tetapi di dalam era global ini, hal tersebut tidak boleh terjadi karena akan menghambat perkembangan SDM dan bangsa pada umumnya. Maka dari itu, pemerintah Indonesia harus mengambil kebijakan yang dapat mengatasi masalah tersebut.

 Sistem Pendidikan yang di Anut di Indonesia
    
 Indonesia sekarang menganut sistem pendidikan nasional. Namun, sistem pendidikan nasional masih belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Ada beberapa sistem di Indonesia yang telah dilaksanakan, di antaranya:
·         Sistem Pendidikan Indonesia yang berorientasi pada nilai.
Sistem pendidikan ini telah diterapkan sejak sekolah dasar. Disini peserta didik diberi pengajaran kejujuran, tenggang rasa, kedisiplinan, dsb. Nilai ini disampaikan melalui pelajaran Pkn, bahkan nilai ini juga disampaikan di tingkat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

·         Indonesia menganut sistem pendidikan terbuka.
Menurut sistem pendidikan ini, peserta didik di tuntut untuk dapat bersaing dengan teman, berfikir kreatif dan inovatif

·         Sistem pendidikan beragam.
Di Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, daerah, budaya, dll. Serta pendidikan Indonesia yang terdiri dari pendidikan formal, non-formal dan informal.

·         Sistem pendidikan yang efisien dalam pengelolaan waktu.
Di dalam KBM, waktu di atur sedemikian rupa agar peserta didik tidak merasa terbebani dengan materi pelajaran yang disampaikan karena waktunya terlalu singkat atau sebaliknya.

·         Sistem pendidikan yang disesuaikan dengan perubahan zaman.
Dalam sistem ini, bangsa Indonesia harus menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini. Oleh karena itu, kurikulum di Indonesia sering mengalami perubahan / pergantian dari waktu ke waktu, hingga sekarang Indonesia menggunakan kurikulum KTSP.

Permasalah Pendidikan Indonesia
Masalah yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia bisa dibagi menjadi dua masalah besar. masalah pertama meliputi proses belajar mengajar dan output-nya serta masalah pendukung dari berlajannya sistem pendidikan Indonesia.
Masalah proses belajar mengajar diawali dari sistem top-down yang saat ini masih dipraktekkan oleh guru. Guru menganggap bahwa murid itu diibaratkan sebuah kertas putih bersih dan belum ada coretan. Siswa dianggap tidak memiliki pengetahuan sehingga guru dengan kuasanya membentuk murid seperti dengan keinginannya. Secara gampang kondisi ini bisa diibaratkan guru sebagai teko dan murid sebagai gelas yang akan diisi air dari teko.
Kondisi ini membuat murid tidak leluasa mengeksplor kemampuan yang dia miliki. Murid hanya mengikuti yang guru inginkan sehingga output yang dihasilkan adalah murid yang tidak memiliki jati diri dan hanya bisa menjadi seorang yang disuruh tanpa bisa menjadi seorang pemimpin yang berkompeten.
Pelajaran yang diajarkan di sekolah memang banyak. Tentunya tidak semua murid memiliki kemampuan yang sama dalam menyerap pelajaran yang disampaikan. Jika guru memaksakan murid memahami seluruh mata pelajaran dan memiliki nilai di atas rata-rata, sama halnya guru ingin memiliki tanaman pisang tapi memiliki buah lebih dari satu macam. Dengan kata lain dalam satu batang pohon pisang, tumbuh buah pisang, buah kelapa, buah durian, buah rambutan dan buah-buah lainnya. Tentunya ini mustahil terjadi karena pohon pisang hanya akan mengeluarkan buah pisang juga.
Sistem top-down yang masih diterapkan di dunia pendidikan Indonesia ini akhirnya menghasilkan manusia yang hanya dapat memenuhi kebutuhan zaman saja. Sedangkan untuk menciptakan generasi yang kritis terhadap zamannya masih jauh dari angan. Memang pemerintah sebagai pihak yang berwenang telah banyak melakukan langkah antisipasi salah satunya dengan mengubah kurikulum yang ada. Kurikulum saat ini sudah menekankan proses pembejalaran yang tidak berfokus terhadap guru saja. Murid juga dilibatkan dalam proses pembejalaran sehingga murid dapat mengemukakan pendapatnya. Akan tetapi kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Kondisi riilnya, guru masih menjadi pusat belajar sehingga kurikulum itu belum diterapkan dengan baik yang tentunya belum memberikan perubahan yang berarti dari dunia pendidikan di Indonesia.
Masalah kedua yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah sarana pendukung berjalannya sistem pendidikan di Indonesia. Sarana dan prasarana di seluruh sekolah di Indonesia saat ini masih jauh dari kata layak. Jika pemerintah hanya melihat di kota besar seperti Jakarta, fakta ini tidak akan pernah terungkap. Cobalah melihat kondisi sekolah di pelosok negeri khususnya di wilayah timur Indonesia. Kondisi sarana dan prasarana sekolah masih jauh dari kata baik. Dengan kondisi seperti ini, pemerintah akan sulit mengejar keseragaman kualitas pendidikan di seluruh penjuru wilayah negeri ini. Perbedaan bagai langit dan bumi dari sarana dan prasarana sekolah di kota dan di desa inilah yang menjadi kendala utama cita-cita mulia tersebut.
Kualitas pendidik juga menjadi momok bagi dunia pendidikan Indonesia. Tidak meratanya pemerataan guru di seluruh pesolok negeri serta tidak adanya kesejahteraan bagi guru, membuat kualitas guru tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan. Banyaknya guru yang bukan bidangnya dengan apa yang mereka ajarkan juga menjadi kendala kenapa kualitas guru tidak juga mengalami peningkatan.
Kesejahteraan guru menjadi faktor kualitas pendidik di Indonesia. Guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan di Indonesia, kondisinya sungguh memprihatinkan. Khususnya bagi guru honorer, gaji yang mereka dapatkan jauh dari kata layak. Akibatnya banyak guru yang memiliki pekerjaan sampingan setelah pulang dari sekolah. Bagi guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) kesejahteraan mereka memang sudah mulai membaik. Tapi kesenjangan yang terjadi antara guru berstatus PNS dan honorer inilah yang menjadi masalah besar. Padahal keduanya memiliki beban dan tanggungjawab kerja yang sama, tapi gaji yang mereka dapatkan bagai langit dan bumi.
Kualitas guru yang masih rendah tentunya berdampak pada rendahnya prestasi siswa. Guru yang tidak kompeten di bidangnya, serta rendahnya kesejahteraan guru membuat guru tidak bekerja dengan optimal. Akibatnya murid lah yang menjadi korban. Murid tidak dapat menyerap materi pelajaran dengan baik karena guru tidak dapat menyampaikan materi pelajaran dengan baik. Sehingga proses transfer ilmu tidak terjadi dengan sempurna.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar