Ada beberapa teori yang membantu kita untuk memahami
bagaimana sikap dibentuk dan bagaimana sikap dapat berubah. Teori – teori
tersebut tidak selalu bertentangan satu sama lain. Adapun teori – teori yang
dimaksud yaitu :
1.
Teori belajar
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Carl Hovland dan
rekannya. Asumsi di balik teori ini adalah bahwa proses pembentukan sikap sama
seperti pembentukan kebiasaan. Orang mempelajari informasi dan fakta tentang
objek sikap yang berbeda – beda dan mereka juga mempelajari perasaan dan nilai
yang diasosiasikan dengan fakta itu (Taylor, 2009).
Teori ini banyak menggunakan prosedur classical
conditioning (Arthur Staats). Menurut Staats, banyak sikap yang terbentuk
secara classical conditioning. Keutamaan classical conditioning
sebagai suatu mekanisme bagi pembentukan sikap terletak pada kenyataan bahwa melalui
classical conditioning, individu akan dapat mempunyai reaksi – reakasi
sikap yang kuat terhadap objek – objek sosial bahakn tanpa pengalaman langsung.
Misalnya, seorang anak sejak kecil sudah diajari bahwa musik klasik adalah
musik yang membosankan. Maka anak tersebut akan mengimplementasikan informasi
yang diterimanya dan membentuk sebuah sikap secara tidak langsung terhadap
musik klasik tersebut. Anak tersebut akan langsung menggambarkan musik klasik
sebagai musik yang membosankan. Pemikiran ini terus berkembang sampai nanti
anak tersebut dewasa. Musik klasik akan tetap menjad musik yang membosankan
untuknya.
Proses belajar dasar juga berlaku untuk proses pembentukan
sikap, yang dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu :
a.
Association (asosiasi), yaitu penghubung dalam memori antara stimulus
yang saling berkaitan. Misalnya, guru sejarah menceritakan tentang peristwa
G30S / PKI dengan nada marah dan penuh permusuhan, kita akan membuat asosiasi
antara perasaan negatif dengan kata “PKI”.
b.
Reinforcement (penguatan), yaitu proses yang dilakukan seseorang dalam
belajar menunjukkan respons tertentu setelah ia diberi imbalan saat ia
menunjukkan respons itu. Misalnya, saat kita mendapat nilai A pada mata kuliah
Psikologi Sosial dan gembira karenanya, maka tindakan untuk mengikuti kelas
psikologi sosial akan diperkuat, dan kita kemungkinan besar akan semakin
tertarik untuk mendalami ilmu psikologi di masa mendatang, begitu pula
sebaliknya.
c.
Imitation (peniruan), yaitu bentuk belajar yang melibatkan pemikiran,
perasaaan, atau perilaku dengan cara meniru pemikiran, perasaan, dan perilaku
orang lain. Misalnya, anak – anak cenderung meniru sikap dan perilaku orang
tuanya sewaktu kecil.
d.
Message learning (belajar pesan), yaitu ide bahwa perubahan sikap
tergantung pada proses belajar indvidu terhadap isi dari komunikasi.
e.
Transfer of effect (transfer efek), yaitu mengubah sikap dengan
memindahkan efek yang disosialisasikan dengan objek lain. Misalnya, mobil yang
dipasangkan dengan wanita cantik akan membuat kita percaya bahwa mobil itu
bagus dan memiliki mobil itu akan membuat kita mendapatkan penghargaan sosial.
Dengan kata lain, orang mengtransfer perasaan atau afek yang mereka rasakan
tentang satu objek ke objek lain.
2.
Teori konsistensi kognitif
Teori ini berfokus pada keberadaaan sikap sesuai satu sama
lainnya atau dengan sikap – sikap yang lain. Teori ini memandang manusia
sebagai pemroses informasi yang aktif yang mencoba memahami seluruhnya atas apa
yang mereka rasakan, pikirkan, dan berbuat dimana mereka secara aktif menyusun
dan menafsirkan dunia tersebut untuk membuat kecocokan terhadap inkonsistensi
yang bisa terjadi di antara dan dalam sikap – sikap.
Ada beberapa teori spesifik yang menekankan arti penting
dalam konsistensi kognitif, antara lain:
a.
Teori keseimbangan
Pada dasarnya teori ini berkaitan dengan bagaimana sikap
kita berkenaan dengan orang – orang dan objek sikap yang konsisten. Teori ini
melibatkan tiga elemen, yaitu : perceiver, orang lain, dan objek lain.
Ketiga elemen tersebut membentuk suatu kesatuan, dimana elemen – elemen
tersebut bisa membentuk suatu kombinasi yang menghasilkan hubungan seimbang /
tidak seimbang. Kondisi yang tidak seimbang akan menimbulkan ketegangan (tension)
dan timbullah tekanan yang mendorong untuk megubah organisasi kognitif
sedemikian rupa sehingga tercipta keadaan seimbang (Dayaksini, 2003).
b.
Teori disonansi kognitif
Disonansi didefinisikan sebagai keadaan motivasional aversif
yang terjadi saat beberapa perilaku yang kita lakukan tidak konsisten dengan
sikap kita. Disonansi selalu muncul terutama jika sikap dan perilaku yang tak
selaras itu adalah penting bagi diri kita (Aranson, 1968 ; Stone & Cooper,
2001).
Fokus dari teori ini adalah individu, yang menyelaraskan
elemen-elemen kognisi, pemikiran atau struktur. Terdapat dua elemen kognitif;
dimana disonansi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu
logika dan pengharapan. Misalnya, seorang perokok yang mengerti bahwa merokok
dapat mengakibatkan penyakit kanker. Kognisi : “saya seorang perokok” tidak
sesuai dengan kognisi “merokok dapat mengakibtakan penyakit kanker”, karena itu
membuat keadaan disonansi.
Disonansi menghasilkan suatu ketegangan psikologis yang
mendorong seseorang mengurangi disonansi tersebut. Pengurangan disonansi dapat
melalui tiga cara, yaitu :
1)
Mengubah elemen tingkah laku
Misalnya, seorang perokok yang mengetahui bahaya merokok
yang dapat mengakibatkan penyakit kanker. Maka untuk menghilangkan disonansi,
perokok itu berusaha tidak merokok lagi.
2)
Mengubah elemen kognitif lingkungan
Misalnya, perokok itu meyakinkan teman – temannya / saudara
– saudaranya bahwa merokok itu tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.
3)
Menambah elemen kognitif baru
Misalnya, mencari pendapat teman lain yang mendukung
pendapat bahwa merokok tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.
3.
Teori persepsi diri
Teori ini berfokus pada individu yang mengetahui akan
sikapnya dengan mengambil kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya
tentang situasi. Implikasinya adalah perubahan perilaku yang dilakukan
seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah
berubah.
Misalnya, seseorang yang awalnya tidak bisa memasak tapi ia
memasak setiap ada kesempatan dan ia baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi
memasak.
4.
Teori presentasi diri
Menurut teori ini, orang memiliki sutau kebutuhan untuk
mengabsahkan aspek – aspek penting dari konsep dirinya, terutama jika konsep
dirinya terancam. Teori ini secara aktif mengelola self – image atau
kesan yang mereka berikan kepada orang lain.
5.
Teori ekspektasi nilai
Teori ini mengasumsikan bahwa orang mengadopsi posisi
(pandangan) berdasarkan penilaian pro dan kontra (untung – rugi), yakni
berdasarkan nilai yang mereka berikan pada kemungkinan efeknya. Menurut teori
ini, dalam pengadopsian sikap, orang cenderung memaksimalkan penggunaan
subjektif atas berbagai hasil yang diperkirakan, yang merupakan produk dari
nilai hasil tertentu dan pengharapan (ekspetandi) bahwa posisi ini akan
menimbulkan hasil yang bagus itu. Misalnya, Anda akan menentukan apakah Anda
akan mendatangi pesta teman Anda nanti malam atau belajar di rumah. Anda
mungkin memikirkan berbagai macam akibat atau kegiatan jika pergi ke pesta,
nilai tentang akibat itu, dan pengharapan tentang akibat atau hasil itu.
Ringkasnya, teori ekspetansi nilai melihat pada keseimbangan
insentif dan memprediksikan bahwa dalam situasi di mana ada tujuan yang saling
bertentangan, orang akan memilih posisi yang memaksimalkan keuntungan buat
mereka. Teori ini mengasumsikan bahwa orang adalah pembuat keputusan yang penuh
perhitungan, aktif, dan rasional (Sears, 2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar