Senin, 14 November 2016

zaman purba kala

zaman purba pertama,  berlangsung kira-kira sampai 500.000 tahun yang lampau di Nusantara hidup makhluk separuh manusia separuh hewan yang disebut satwapurusa. Mereka tidak berbusana dan umumnya tidak menggunakan senjata, kulitnya hitam dan berbulu. Kira-kira dari 750.000 sampai 250.000 tahun yang silam satwapurusa yang hidup di Pulau Jawa berjalan seperti manusia, berkulit hitam kemerahan, berspekakas tulang dan batu, bertabiat baik dan tidak suka memangsa sesama, dinamakan bhutapurusa.
Kedua, zaman purba kedua, berlangsung kira-kira sampai 300.000 tahun silam hidupyaksapurusa yang berhasil membinasakan satwapurusa. Mereka berperawakan seperti denawa, tegap, besar dan tinggi, berkulit hitam. Ketiga, zaman purba ketiga atau zaman purba madya, berlangsung kira-kira dari 50.000 sampai 25.000 tahun yang lampau hidup wamanapurusa, sejenis manusia kerdil berpekakas dari batu. Mereka tersebar di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka.
Keempat, zaman purba keempat, berlangsung kira-kira dari 250.000 hingga 10.000 tahun silam hidup manusia yang lebih besar dari wamanapurusa, tinggal di Jawa Tengah dan Timur. Perkakas mereka terbuat dari batu, kayu, tulang, dan bambu. Dan, kelima, zaman purba kelima yang disebut zaman purba terakhir, berlangsung kira-kira 10.000 sampai tahun pertama tarikh Saka. Kurun zaman ini dinamakan masanya orang-orang baru dari utara bermigrasi ke wilayah Nusantara yang tanahnya subur, terkenal dengan aneka ragam rempah-rempah.
Semenjak masuk dalam kurun tahun Saka, kehidupan masyarakat di Nusantara mulai dapat dibedakan antara penduduk pribumi yang telah lama menetap dengan para pendatang baru dari negeri-negeri sebelah utara. Antara kedua belah pihak lama-kelamaan terjadi perbauran melalui perkawinan dengan perempuan pribumi, hidup menetap dalam rumah panggung di sebuah perkampungan yang dipimpin seorang penghulu atau datuk yang mengemban tanggung jawab atas kelangsungan hidup kelompoknya.
Mereka sudah mampu mengatur dan membudidayakan sumber alam berupa bercocok tanam dan beternak binatang, membuat api dengan pemantik batu dan besi, mengenal alat penukan barang, memiliki ilmu perbintangan, dan pengetahun tentang tutur kata. Di antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya telah terjadi persaingan yang tidak jarang terjadi saling serang yang mengakibatkan terusirnya kelompok yang lemah, bahkan mulai terjadi pula perebutan jabatan pimpinan dalam sebuah kelompok.
Para kaum pendatan juga mengajarkan agama yang mereka anut kepada penduduk setempat. Kehidupan perniagaan mulai berkembang yang awalnya hanya berupa tukar-menukan barang kebutuhan antar kelompok hingga menjadi proses perdagangan berbagai perkakas dan perhiasan dari aneka ragam logam, perak, emas, manik-manik, kristal, pakaian, dan kendaraan.
Selanjutnya diriwayatkan kedatangan Dewawarman dengan para pengikutnya. Kemudian Dewawarman kawin dengan putri dari penghulu masyarakat sebuah wilayah di ujung barat Jawa Barat, istrinya kemudian diberi gelar Dewi Dhw?nirahayu. Pada tahun 130-168 M, Dewawarman dinobatkan menjadi raja wilayah tersebut dengan kerajaannya disebut Salakanagara dengan ibukotanya di Rajatapura. Raja-raja Salakanagara selanjutnya adalah: Dewawarman II (168–195 M), Dewawarman III (195–238 M), Dewawarman IV (238–252 M), Dewawarman V ( 252–276 M), Spatikarnawa Warmandewi (276–289 M), Dewawarman VI (289–308 M), Dewawarman VII (308–340 M), dan Dewawarman VIII (340–363 M).

Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara
Naskahini diawali dengan paparan yang mengacu pada kira-kira sejuta tahun sampai enam ratus ribu tahun yang lalu di bumi Nusantara, terutama di Pulau  Jawa. Pada waktu itu  hidup  berkembang manusia yang memiliki tabiat, seperti separuh binatang. Ada juga  yang menyebut manusia-hewan dari zaman purba, karena mereka berjalan seperti separuh hewan  separuh menusia. Tinggi besar wujudnya, tidak bertempat tinggal. Mereka ada yang seperti wujud raksasa serta berbulu, tabiatnya kasar.
Mereka hidup berkelompok tidak banyak. Ada lagi (yang hidup) di hutan yang lebat seperti kera. Mereka tinggal di atas pohon-pohonan, juga di lereng gunung, dan di tepi sungai.  Apabila mereka berkelahi, seorang lawan seorang  dan membunuh tanpa senjata, hanya menggunakan tangan, tidak berpakaian, mereka tidak memiliki perasaan seperti manusia sekarang.
Mereka dijumpai senang sekali berayun-ayun di atas kayu-kayu. Manusia hewan itu  ada di  Pulau Jawa, di hutan Swarnabhumi (Sumatera), di hutan Mengkasar (Sulawesi), hutan Bakulapura (Kalimantan), dan di  wilayah yang lainnya.  Di Pulau Jawa kita-kira 700.000 sampai 300.000 tahun yang lampau hidup manusia-hewan yang berjalan seperti manusia, kulitnya berwarna merah  hitam, tabiatnya baik, dan lebih cerdas dari manusia hewan yang berjalan seperti binatang.
Setiap hari senantiasa membuat senjata dari tulang dan batu, walaupun hasil pekerjaannya yang tidak begitu bagus dan mereka tidak pemarah. Mereka senantiasa  diserang oleh manusia-hewan yang seperti manusia, oleh karena itu,  berkelahilah  kedua golongan itu, manusia-hewan yang seperti manusia mahir berkelahi. Dengan        demikian manusia-hewan yang berjalan seperti binatang  akhirnya musnah, semuanya dibunuh tanpa bersisa, lenyap dari muka bumi. Kulit mereka berwarna hitam.
Ada juga yang disebut manusia-hewan yang berjalan seperti manusia disebut butapurusa(manusia raksasa) tinggal di dalam gua-gua di lereng gunung. Yang berwujud butapurusa musnah tiada bersisa. Karena itu, sejak  600.000 tahun yang lampau, mereka banyak yang dibunuh oleh orang-orang pendatang dari benua sebelah utara. Kedatangan mereka itu  dari wilayah Yawana, kemudian dari Sanghyang Hujung, Swarnabhumi, dan Pulau  Jawa. Pada 250.000 tahun yang lampau mereka yang berwujud butapurusa musnah tiada bersisa. Kejadian itu oleh mahakawi diberi nama zaman purba pertama.
Orang pendatang yang dianggap sebagai manusia purba, berdiam di Jawa Timur.  Ada yang pergi ke timur, kemudian menetap di pulau-pulau sebelah timur.  Ada yang pergi berlayar ke selatan di Pulau Jawa, ada yang tinggal di Swarnabhumi dan seluruh pulau di bumi Nusantara.
Selanjutnya kira-kira pada 500.000 tahun sampai 300.000 tahun yang lampau, di Swarnabhumi dan Jawa Barat serta Jawa Tengah hidup yaksapurusa pada zaman purba yaitu seperti manusia-yaksa, atau seperti rupa raksasa. Badannya tegap, besar dan tinggi, mereka suka memakan manusia sesamanya, terutama musuhnya, serta berbagai binatang, bertabiat tidak berperikemanusiaan, sedangkan perasaan mereka bagai binatang buas. Tubuhnya tinggi, tidak berpakaian dan kulitnya berwarna hitam dan berbulu banyak. Mereka suka meminum darah sesama manusia. Makhluk ini akhirnya lenyap tiada bersisa, karena mereka banyak yang dibunuh oleh manusia purba, ialah pendatang baru dari benua sebelah utara.

Diceritakan pula pada 300.000 tahun sampai 50.000 tahun yang lampau, di Jawa Barat dan Jawa Tengah, pernah ada manusia separuh raksasa, yaitu rupa manusia separuh raksasa. Manusia ini belum diketahui nenek-moyangnya, karena rupanya hampir sama  dengan manusia raksasa yang telah musnah. Tetapi badannya lebih kecil dan lebih banyak perbedaannya. Kulitnya tidak berwarna hitam, dan tidak banyak bulunya, bertabiat baik dan lebih cerdas dari manusia raksasa yang telah musnah. Kemudian mereka juga musnah tiada bersisa, karena banyak yang dibinasakan  oleh orang pendatang baru.  Menurut mahakawi,  masa demikian  disebut zaman purba kedua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar