Teori Atom Dalton, J.J. Thomson, Rutherford,
Bohr dan Mekanika Gelombang
Teorikimia -
Teori atom berdasarkan penemunya terdapat beberapa jenis teori, diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Teori atom Dalton
Dasar-dasar
teori atom modern dimulai oleh John Dalton, yang mempostulatkan
bahwa unsur-unsur tersusun atas partikel-partikel yang luar biasa kecil yang
disebut atom, dan semua atom dari suatu unsur identik , tetapi berbeda dari
atom-atom unsur yang lain.
Teori Dalton tersebut didasari oleh beberapa
hukum yakni,
Hukum perbandingan tetap (Joseph Proust)
menyatakan bahwa sampel – sampel yang berbeda dari senyawa yang sama selalu
mengandung unsur-unsur penyusunnya dengan perbandingan massa yang sama.
Hukum perbandingan berganda menyatakan bahwa
jika dua unsur dapat bergabung membentuk lebih dari satu senyawa, maka
massa-massa dari unsur yang pertama dengan satu massa tetap dari unsur yang
kedua akan berbading sebagai bilangan bulat yang sederhana.
Hukum kekekalan massa menyatakan bahwa materi
tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. (Chang, 2004)
Teori atom Dalton dapat dilihat pada Gambar
2. Teori Atom J.J. Thomson (Teori atom roti
kismis)
Teori atom J.J Thompson didasari pada percobaan dengan
menggunakan tabung katoda. Thomson menemukan bahwa apabila tabung
katoda di beri tegangan tinggi maka suatu “sinar” yang disebut sebagai “sinar
katoda” akan dihasilkan. Karena sinar ini muncul pada elektroda negatif dan
sinar ini menolak kutub negatif dari medan listrik yang diaplikasikan ke tabung
katoda maka Thompson menyatakan bahwa sinar katoda tersebut tidak lain adalah
aliran partikel bermuatan negatif yang dikemudian hari disebut sebagai
elektron. Dengan mengganti katoda menggunakan berbagai macam logam maka
Thompson tetap menghasilkan jenis sinar yang sama.
Berdasarkan hal ini maka Thompson menyatakan
bahwa setiap atom pasti memiliki elektron, karena atom bersifat netral maka
dalam atom juga harus megandung sejumlah muatan positif. Sehingga teori atom
Thomson menyatakan bahwa,
“Atom terdiri dari awan bermuatan positif yang
terdistribusi sedemikian rupa dengan muatan negatif tersebar secara random di
dalamnya”.
Teori atom Thomson dapat dilihat pada Gambar 2.
3. Teori Atom Rutherford
Ernest Rutherford dan kawan-kawannya melakukan
percobaan melewatkan sinar dalam tabung yang berisi gas. Ternyata sinar
bergerak lurus tanpa dipengaruhi oleh gas. Mereka menduga bahwa molekul gas
tidak bermuatan dan tidak mengubah arah sinar yang bermuatan positif.
Berdasarkan hal ini Rutherford berhipotesis
bahwa partikel dalam padatan akan berubah arah, karena dalam atom terdapat
muatan positif. Hipotesis ini dibuktikan oleh Geiger dan Marsden, yang
menembakkan sinar pada selempeng platina tipis. Hasilnya ditangkap dengan layar
yang terbuat dari ZnS yang dapat berfluoresensi bila kena sinar .
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sinar yang
ditembakkan itu ada yang tembus, membelok, dan memantul. Sinar yang tembus
merupakan bagian terbesar, sedangkan yang membelok sedikit, dan yang memantul
sedikit sekali. Gejala ini dijelaskan oleh Rutherford, bahwa partikel banyak
yang tembus disebabkan oleh atom yang mengandung banyak ruang hampa.
Di pusat atom terdapat sebuah partikel
bermuatan positif yang disebut inti. Sinar akan membelok bila mendekati inti,
karena saling tolak menolak. Kejadian ini sedikit jumlahnya karena ukuran inti
atom sangat kecil dibandingkan ukuran ruang hampanya. Jika ada partikel yang
menabrak inti, maka akan memantul walaupun tidak 180o. Tumbukan langsung ini
sangat kecil kemungkinannya, maka jumlah yang memantul kecil sekali.
Di luar inti tidak hanya kosong, tetapi
terdapat elektron yang berputar mengelilinginya. Elektron tidak mempengaruhi
arah sinar karena elektron sangat kecil dan ringan. Dengan penalaran seperti
itulah Rutherford menggambarkan atom terdiri dari inti yang bermuatan positif yang
merupakan terpusatnya massa, dan di sekitar inti terdapat elektron
yang bergerak mengelilinginya dalam ruang hampa
Kelemahan teori Rutherford ini adalah
ketidakmampuannya menerangkan mengapa elektron tidak jatuh ke inti atom akibat
gaya tarik elektrostatik inti terhadap elektron.
4. Teori Atom Bohr
Penyempurnaan model atom Rutherford yang
berkaitan dengan lintasan elektron dilakukan oleh murid Rutherford sendiri,
yang bernama Niels Bohr.
Bohr memiliki pendapat sebagai berikut :
Elektron beredar mengelilingi inti atom dengan
tingkat-tingkat energi tertentu. Semakin dekat ke inti atom, tingkat energi
semakin rendah. Dan sebaliknya, semakin jauh dari inti atom, tingkat energi
semakin tinggi. Tingkat-tingkat energi ini membentuk lintasan elektron yang
berupa lingkaran. Peredaran elektron dalam lintasannya tersebut tidak
membebaskan atau menyerap energi, sehingga bersifat stabil.
Perpindahan elektron dapat terjadi dengan cara
: Menyerap energi sehingga elektron tersebut berpindah ke tingkat energi yang
lebih tinggi atau lintasan yang lebih luar atau membebaskan energi sehingga
elektron tersebut berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah atau lintasan
yang lebih dalam.
Energi yang dibebaskan saat elektron berpindah
ke tingkat energi yang lebih rendah dapat diamati sebagai pancaran cahaya
dengan panjang gelombang tertentu. Spektrum cahaya atau gelombang
elektromagnetik pada atom hidrogen dijadikan bukti oleh Bohr untuk mendukung
teorinya
Kelemahan teori atom Bohr adalah hanya dapat menerangkan spektrum atom dari atom atau ion yang mengandung satu elektron dan tidak sesuai dengan spektrum atom atau ion berelektron banyak.
Kelemahan teori atom Bohr adalah hanya dapat menerangkan spektrum atom dari atom atau ion yang mengandung satu elektron dan tidak sesuai dengan spektrum atom atau ion berelektron banyak.
5. Teori Atom Mekanika Gelombang
Model atom mekanika gelombang menggambarkan
sifat pergerakan elektron dan kedudukan elektron. Dasar pertama model atom
mekanika gelombang ini adalah hipotesis de Broglie. Jika menurut Bohr elektron
bergerak mengelilingi inti, maka menurut teori Broglie, gerakan itu bukanlah
dalam lintasan teretentu melainkan dalam bentuk gelombang.
Dasar kedua adalah asas ketidakpastian
Heisenberg, kedudukan elektron tidak dapat ditentukan secara pasti, karena
elektron yang bergerak di sekitar inti memiliki posisi dan momentum tertentu
pada setiap saat. Akibatnya, kita tidak mungkin mengetahui lintasa elektron, seperti
dikemukakan oleh Bohr dan yang dapat ditentukan hanya orbital. Orbital adalah
daerah kebolehjadian atau peluang ditemukannya elektron. Lintasan bergeraknya
elektron bukan merupakan sebuah garis yang pasti, melainkan sebuah ruang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar